Cari
  • Herman Umbu Billy

MEDIA SOSIAL MEMBUNUH BATIN MU


Apakah kamu selalu menyapa Facebook mu setiap bangun pagi? atau tidak bisa tidur karena pikiran mu masih berselancar di Instagram atau mungkin kamu sedang live di Tik Tok?


Banyak dari kita yang melihat Google hanya sebagai mesin pencari, Facebook hanya sebagai media untuk kita melihat kabar teman-teman kita, Instagram hanya sebagai album foto-foto istimewa, namun sebagian dari kita mencari perhatian dengan berbagai settingan, dengan tujuan utama mendapat perhatian lebih hingga menjadi populer.


Apakah kita membayar berbagai layanan sosial media itu? jawabannya tentu tidak. Ingatlah jika kita tidak membayar untuk mendapatkan suatu layanan maka kitalah produknya. Kita disebut 'Pengguna', hanya dua industri di dunia yang menyebut konsumennya sebagai pengguna yaitu media sosial industri dan industri narkoba. Ada benang merah yang menghubungkan kedua industri ini yaitu keduanya memiliki efek candu yang sama.


Mereka memiliki data tentang kita, memiliki data miliaran penduduk dunia, mereka mengetahui apa yang kita lakukan, apa yang kita mau, apa yang kita pikirkan. Algoritme (Dalam matematika dan ilmu komputer, algoritme adalah prosedur langkah demi langkah untuk penghitungan, pemrosesan data, dan penalaran otomatis) mereka mengatur kebutuhan kita di dunia virtual, algoritme media sosial memberikan konten-konten yang kita butuhkan, menampilkan iklan-iklan yang kita suka. Tombol like dan komentar pada media sosial menaikan hormon dopamin, salah satu hormon kebahagiaan, melalui like dan comment pada media sosial meningkatkan produksi hormon kebahagiaan ini yang membuat kita senang dan bahagia dalam menjalani kehidupan. Kemudian kita akan larut kedalamnya, melakukan apa saja mulai dari membuat status, membagikan berita-berita dari sumber yang tidak jelas (bahkan mungkin kita hanya membaca judulnya saja), memproduksi gosip, berita dan informasi palsu, menghina dan mencela orang lain, memajang foto terbaik hingga berjoget-joget dengan musik viral di depan kamera smart phone, Itu semua kita lakukan demi konten yang berpotensi mendapatkan banyak like dan coment, kita mengalami stress berat jika like dan comment tidak kita dapatkan dalam jumlah yang cukup untuk memuaskan dahaga bermedia sosial kita, kemudian kita tersadar bahwa kita mengalami CANDU.


Tulisan diatas hanya pengantar, jika kamu juga tersadar maka carilah lebih banyak informasi tentang ini melalui artikel-artikel, podcasts atau film dokumenter, salah satunya; The Social Dilemma.

13 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua