Cari
  • Herman Umbu Billy

LABUANBAJO.CITY Smart City Digital Use Case & Action Plan



Labuan Bajo adalah salah satu kota di antara 22 kota/kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pariwisata & Ekonomi Kreatif menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DSP) di Indonesia. Penetapan status DSP pada kota kecil Labuan Bajo menyebabkan terjadinya peningkatan skala pembangunan, terutama pembangunan infrastruktur penunjang industri pariwisata, bahkan pembangunan infrastruktur juga masuk pada wilayah konservasi Taman Nasional Komodo.



Pada tahun 1991 UNESCO menetapkan wilayah konservasi komodo sebagai warisan dunia. Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengkategorisasi komodo ke dalam daftar Merah hewan yang terancam punah. Komodo mengalami susut populasi >40% (1970-2000), diperkirakan susut >30% dalam 45 tahun ke depan dan populasi turun 99% (proyeksi 2050). Labuan Bajo sendiri merupakan satu-satunya kota yang terhubung langsung dengan pulau-pulau di kawasan Taman Nasional Komodo, dimana para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Komodo biasanya lebih dahulu datang ke kota Labuan Bajo.



Komodo dapat terus lestari hingga hari ini karena tidak terjamah oleh aktivitas manusia, namun dengan penetapan Labuan Bajo sebagai DSP telah membuka ruang kunjungan wisatawan dalam jumlah besar ke kawasan konservasi Komodo. Dalam upaya menjaga dan melestarikan salah satu spesies purba tersebut, habitat komodo hendaknya tidak dibuka untuk kunjungan manusia atau wisatawan, kecuali untuk kebutuhan khusus seperti penelitian, sehingga untuk masyarakat dan wisatawan umum pengalaman melihat entitas komodo secara lebih dekat dapat dilakukan menggunakan teknologi VR (Virtual Reality).



Keajaiban dan jejak masa lalu di Flores tidak hanya soal komodo, pada tahun 2002-2003 di Liang Bua (sebuah situs pemukiman di zaman prasejarah yang terletak di kabupaten Manggarai. Dalam bahasa Manggarai, Liang berarti gua, dan Bua berarti sejuk, maka Liang Bua berarti gua yang sejuk). Sekelompok peneliti menemukan Homo Floresiensis di Liang Bua. Homo Floresiensis merupakan nama yang diberikan oleh sekelompok peneliti tersebut kepada spesies yang merupakan genus homo ini, spesies ini memiliki karakteristik tubuh dan volume otak yang kecil, berdasarkan serial subfosil dari sembilan individu yang ditemukan di Liang Bua. Dengan bantuan teknologi AR (Augmented Reality) kita dapat menghadirkan kembali Homo Floresiensis di Liang Bua untuk kepentingan arkeologi dan pendidikan tentunya.



Kami menyadari bahwa kota Labuan Bajo tidak cukup hanya dibangun infrastruktur fisik seperti penataan kota secara umum, pembangunan Dermaga Nusantara sebagai pelabuhan penumpang dan pelabuhan multipurpose, penataan Gua Batu Cermin sebagai destinasi pariwisata berbasis geopark yang dilengkapi dengan museum kebudayaan serta flora & fauna, dan pembangunan Waringin Creative HUB yang berlokasi di Puncak Waringin sebagai etalase cinderamata, kerajinan dan berbagai produk UKM/UMKM, sekaligus sebagai ruang kolaborasi bagi komunitas-komunitas kreatif di Labuan Bajo. Selain pembangunan infrastruktur fisik yang tersampaikan sebelumnya, kota Labuan Bajo juga perlu diakselerasi dengan infrastruktur digital.




Tahun 2021 sebuah portal digital yakni www.labuanbajo.city telah digagas (oleh CIVILARC.ID & SumbaMedia HUB - perusahaan yang saya pimpin) sebagai platform info kota dan konektivitas destinasi pariwisata super prioritas Labuan Bajo dengan destinasi-destinasi lain di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengingat Labuan Bajo adalah HUB dari berbagai destinasi budaya (living museum) di NTT, seperti Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai-Flores, Kampung Adat Bena di Bajawa-Flores, hingga Kampung Adat Ratenggaro di Kodi-Sumba. Dengan hadirnya program BAMO bersama Good City Foundation & ICCN (Indonesia Creative Cities Network), kami yakin dapat memperkuat platform digital www.labuanbajo.city dengan akselerasi teknologi VR/AR serta di masa yang akan datang dapat pula dikembangkan secara kolaboratif melalui program optimalisasi emisi energi kota seperti EDGE dan Digital Twin sebagai upaya perencanaan dan pembangunan smart city. Para stakeholder yang berpotensi terlibat dalam proyek ini di antaranya Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Good City Foundation, Indonesia Creative Cities Network (ICCN), CIVILARC.ID, SumbaMedia HUB, Perumda Bidadari Labuan Bajo,dapat pula dielaborasi dukungan kerjasama dan program terkait dari Kemenkopukm, Arkenas-Kemendikbud, BPOLBF-Kemenparekraf, Kemenbumn, serta mitra potensial lainnya.



18 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua